Selasa, 13 Desember 2011

Identifikasi dan Analisis Vegetasi Gulma

LAPORAN PRAKTIKUM
ORGANISME PENGGANGGU  TUMBUHAN
(Identifikasi dan Analisis Vegetasi Gulma)


Nama     : Igar Riswanto
NIM      : A1L010116
Rombongan     : B2

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
AGROTEKNOLOGI
PURWOKERTO
2011
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konsepi dan metode analisis vegetasi sesungguhnya sangat beragam tergantun kepada keadaan vegetasi itu sendiri dan tujuannya. Contoh yang digunakan untuk mempelajari suksesi dan evaluasi hasil suatu pengendalian gulma. Pada area yang luas dengan vegetasi semak rendah misalnya digunakan metode garis (line intercept), untuk pengamatan sebuah peta dengan vegetasi yang tumbuh menjalar (creeping) digunakan metode titik (point intetcept), dan untuk daerah yang luas serta tidak tersedia waktu yang cukup digunakan metode estimasi visual (visual estimation). Juga harus diperhatikan keadaan geologi, tanah, topografi, dan data vegetasi yang mungkin telah ada sebelumnya, serta fasilitas kerja atau keadaan seperti peta, lokasi yang dicapai, waktu yang tersedia, dan sebagainya. Kesemuanya untuk memperoleh efisiensi pendataan vegetasi.
Vegetasi menggambarkan perpaduan berbagai jenis tumbuhan di suatu wilayah atau daerah. Suatu tipe vegetasi menggambarkan suatu daerah dari segi penyebaran tumbuhan yang ada baik secara ruang dan waktu. Rawa-rawa, padang rumput dan hutan merupakan suatu contoh vegetasi. Suatu vegetasi kadangkala dibagi menjadi beberapa komunitas yang tumbuh bersama di suatu daerah. Beberapa komunitas tersebut juga disebut assosiasi yaitu sekumpulan tumbuhan yang tumbuh bersama pada lingkungan yang sama. Komunitas tumbuhan akan selalu di dominasi oleh jenis tumbuhan tertentu sebagai gulma. Komunitas tumbuhan sering kali digunakan oleh ahli ekologi untuk menjelaskan suatu vegetasi di suatu wilayah. Adapun sifat-sifat dasar yang dimiliki oleh komunitas tumbuhan adalah:
a)  Mempunyai komposisi floristic yang tetap
b)  Fisiognomi (struktur, tinggi, penutupan, tajuk daun, dsb)
c)  Mempunyai penyebaran yang karakteristik dengan lingkungan habitatnya
Batasan gulma sampai saat ini masih bersifat kontroversi, tergantung kepada konsepsi dan ruang kajiannya. Gulma sebagai tumbuhan yang telah berhasil menyesuaikan diri dalam ekosistem yang telah dikembangkan oleh manusia dalam membudidayakan tanaman pada suatu lahan.  Dalam ekosistem termasuk dalam ekosistem pertanian (gulma agrestal), setiap spesies mampu berkembang biak dengan cepat dan bersaing dengan tanaman budidaya dalam hal pemanfaatan unsure hara, air, ruang, CO2, dan cahaya baik di lahan sawah maupun lahan kering. Akibat hal tersebut berpengaruh merugikan terhadap tanaman budidaya, berupa penurunan hasil panen, inang bagi hama dan penyakit, menyulitkan pekerjaan pemeliharaan tanaman dan pemanenan, serta meningkatkan biaya produksi. Pengenalan spesies gulma dan sifat-sifatnya sangat diperlukan untuk menentukan pengendalian yang tepat.

B.  Tujuan
Tujuan praktikum kali ini ialah untuk mengetahui spesies gulma yang mengganggu dan bersaing dengan tanaman budidaya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

     Gulma adalah segala tanaman yang tumbuh pada tempat yang tidak diinginkan. Bunga mawar pun, jika tumbuh di tengah sayuran juga termasuk Gulma. Kebanyakan Gulma adalah tanaman yang cepat tumbuh dan dapat menghasilkan sejumlah besar biji dalam waktu singkat. Biasanya bijinya mudah tersebar, misalnya bunga dandelion dengan buahnya yang bisa tersebar hanya dengan angin kecil. Beberapa gulma akan terus menebarkan bijinya walaupun pohonnya telah dicabut. Di atas tanah, dari gulma kebun biasa, bunga-bunganya akan membuat setumpuk biji berambut pada timbunan kompos jika ditaruh disitu dan tidak dihancurkan. Gulma lain seperti tumbuhan rambat bunga kuning menghasilkan puncuk yang berakar setiap kali menyentuh tanah. Dengan ini, tanaman menjalar dengan cepat. Ada Gulma yang seperti konvolvulus, harus diangkat sepenuhnya dari tanah. Sisa tangkai yang tercecer akan tumbuh sebagai tanaman baru. (Sukman, 1991)
Gulma mengkibatkan kerugian-kerugian yang antara lain disebabkan oleh :
1. Persaingan antara tanaman utama sehingga mengurangi kemampuan berproduksi, terjadi persaingan dalam pengambilan air, unsur-unsur hara dari tanah, cahaya dan ruang lingkup.
2. Pengotoran kualitas produksi pertanian, misalnya pengotoran benih oleh biji-biji gulma.
3. Allelopathy yaitu pengeluaran senyawa kimiawi oleh gulma yang beracun bagi tanaman yang lainnya, sehingga merusak pertumbuhannya.
4. Gangguan kelancaran pekerjaan para petani, misalnya adanya duri-duri Amaranthus spinosus, Mimosa spinosa di antara tanaman yang diusahakan.
5. Perantara atau sumber penyakit atau hama pada tanaman, misalnya Lersia hexandra dan Cynodon dactylon merupakan tumbuhan inang hama ganjur pada padi.
6. Gangguan kesehatan manusia, misalnya ada suatu gulma yang tepung sarinya menyebabkan alergi.
7. Kenaikkan ongkos-ongkos usaha pertanian, misalnya menambah tenaga dan waktu dalam pengerjaan tanah, penyiangan, perbaikan selokan dari gulma yang menyumbat air irigasi.
8. Gulma air mngurangi efisiensi sistem irigasi, yang paling mengganggu dan tersebar luas ialah eceng gondok (Eichhornia crssipes). Terjadi pemborosan air karena penguapan dan juga mengurangi aliran air. Kehilangan air oleh penguapan itu 7,8 kali lebih banyak dibandingkan dengan air terbuka. Di Rawa Pening gulma air dapat menimbulkan pulau terapung yang mengganggu penetrasi sinar matahari ke permukaan air, mengurangi zat oksigen dalam air dan menurunkan produktivitas air. (Moenandir, 1988)
Gulma antara lain didefinisikan sebagai tumbuh-tumbuhan yang tumbuh pada tempat yang tidak dikehendaki manusia.  Tumbuh pada tempat yang tidak dikehendaki manusia, hal ini dapat berarti tumbuhan tersebut merugikan baik secara langsung maupun tidak langsung atau bahkan kadang-kadang juga belum diketahui kerugian atau kegunaannya.(Tjitrosoedirdjo, 1984).
Pengamatan populasi gulma pada suatu lahan yang sangat luas sulit dilakukan secara menyeluruh, karena terbatasnya waktu, tenaga dan dana.  Untuk itu dilakukan pengambilan sampel.  Pengambilan sampel harus dapat mewakili atau menggambarkan populasi yang beragam (Triharso, 1996).
Ada 4 macam cara pengambilan sampel dari lahan, yaitu:
1.         Pengambilan sampel secara langsung
2.         Pengambilan sampel secara acak tidak langsung
3.         Pengambilan sampel bertingkat
4.         Pengambilan sampel secara beraturan
Cara pengambilan sampel ini adalah kenyataannya memberikan hasil yang lebih mewakili kondisi lapangan yang diamati. Untuk areal yang luas dengan vegetasi semak rendah misalnya, digunakan metode garis (line intercept), untuk pengamatan sebuah contoh petak dengan vegetasi “tumbuh menjalar” (creeping), digunakan metode titik (point intercept), dan untuk suatu survei daerah yang luas dan tidak tersedia cukup waktu, estimasi visual (visual estimation) mungkin dapat digunakan oleh peneiliti yang sudah berpengalaman.  Juga harus diperhatikan keadaan geologi, tanah, topografi, dan data vegetasi yang mungkin telah ada sebelumnya, serta fasilitas kerja/ keadaan, seperti peta, lokasi yang bisa dicapai, waktu yang tersedia, dan lain sebagainya (Tjitrosoediro, 1984).
Pada dasarnya data yang diperoleh dari analisis vegetasi dapat dibagi atas dua golongan yaitu data kualitatif dn data kuantitaif.  Data kualitatif menunjukkan bagaimana suatu jenis tumbuhan tersebar dalam kelompok, stratifiksinya, periodisitas, dan lain sebagainya; sedang data kuantitatif menunjukkan jumlah, ukuran, berat basah/ kering suatu jenis, luas daerah yang ditumbuhinya.  Data kuantitatif didapat dari hasil penjabaran petak-petak contoh di lapangan, sedangkan data kualitatif didapat dari hasil pengamatan lapangan berdasar pengalaman yang luas atau hasil penelitian aotecology (Tjitrosoediro, 1984).
Metode analisis vegetasi yang lazim digunakan ada 4 macam yaitu estimasi visual, metode kuadrat, metode garis dan metode titik. (Tjitrosoediro, 1984).
1.         Metode estimasi visual
Pengamatan dilakukan pada titik tertentu yang selalu tetap letaknya, misalnya selalu di tengah atau di salah satu sudut yang tetap pada petak-contoh yang telah terbatas.  Besaran yang dihitung berupa dominansi yang dinyatakan dalam persentase penyebaran.
2.         Metode kuadrat
Yang dimaksud kuadrat di sini adalah suatu ukuran luas yang dinyatakan dalam satuan kuadrat (misalnya m2, cm2, dan sebagainya) tetapi bentuk petak-contoh dapat berupa segi-empat (kuadrat), segi panjang, atau sebuah lingkaran.
3.         Metode garis
Metode garis atau rintisan, adalah petak-contoh memanjang, diletakkan di atas sebuah komunitas vegetasi
4.         Metode titik
Metode titik merupakan suatu variasi metode kuadrat.  Jika sebuah kuadrat diperkecil sampai titik tidak terhingga, akan menjadi titik
Sebagai tumbuhan, gulma juga memerlukan persyaratan tumbuh seperti halnya tanaman lain misalnya kebutuhan akan cahaya, nutrisi, air, gas CO2 dan gas lainnya, ruang dan lain sebagainya (Moerandir, 1988).
Penanggulangan gulma terbaik dilakukan dengan mempraktekkan pengendalian terpadu.  Disamping itu, upaya menjaga agar populasi gulma tidak melampaui ambang ekonomi, perlu didukung oleh kesadaran, pengamatan dan pendidikan para pelaku usaha tani (Rukmana, 1999).
Data yang diperoleh dari analisis vegetasi dibagi menjadi dua jenis, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif yaitu data yang menunjukkan bagaimana suatu jenis tumbuhan tersebar dan berkelompok. Sedangkan data kualitatif merupakan data yang menyatakan jumlah, ukuran, berat basah/kering suatu jenis, dan luas daerah yang ditumbuhinya (Soekisman, 1984).
Gulma juga mempunyai nilai positif yang memberikan keuntungan bagi tanaman budidaya. Pertama, gulma dapat mengurangi resiko erosi yang terjadi di areal pertanaman tanaman budidaya. Kedua, gulma dapat menjadi inang hewan predator bagi hama – hama yang merusak tanaman. Gulma juga dapat berperan sebagai LCC (Legume cover crop)(Iskandar, 2009).
Perkembangbiakan gulma sangat mudah dan cepat, baik secara generatif maupun secara vegetatif. Secara generatif, biji-biji gulma yang halus, ringan, dan berjumlag sangat banyak dapat disebarkan oleh angin, air, hewan, maupun manusia. Perkembangbiakan secara vegetatif terjadi karena bagian batang yang berada di dalam tanah akan membentuk tunas yang nantinya akan membentuk tumbuhan baru. Demikian juga, bagian akar tanaman, misalnya stolon, rhizomma, dan umbi, akan bertunas dan membentuk tumbuhan baru (Barus,2003).
Cara klasifiikasi pada tumbuhan ada dua macam yaitu buatan (artificial) dan alami (natural). Pada klasifikasi sistem buatan pengelompokan tumbuhan hanya didasarkan pada salah satu sifat atau sifat-sifat yang paling umum saja, sehingga kemungkinan bisa terjadi beberapa tumbuhan yang mempunyai hubungan erat satu sama lain dikelompokan dalam kelompok yang terpisah dan sebaliknya beberapa tumbuhan yang hanya mempunyai sedikit persamaan mungkin dikelompokan bersama dalam satu kelompok. Hal demkian inilah yang merupakan kelemahan utama dari kalsifikasi sistem buatan. Pada klasifikasi sistem alami pengelompokan didasarkan pada kombinasi dari beberapa sifat morfologis yang penting. Klasifikasi sistem alami lebih maju daripada klasifikasi sistem buatan, sebab menurut sistem tersebut hanya tumbuh-tumbuhan yang mempunyai hubungan filogenetis saja yang dikelompokan ke dalam kelompok yang sama. (Anonim,2009)
Pengendalian gulma dimaksudkan untuk menekan atau mengurangi pertumbuhan populasi gulma sehingga penurunan hasil yang diakibatkannya secara ekonomi menjadi tidak berarti. Cara pengendalian gulma berbeda berbeda dengan pengendalian hama dan penyakit tanaman pada umumnya. Pestisida adalah racun untuk membunuh serangga (insektisida), fungi atau cendawan, nematoda dan lain-lain hama dan penyakit pengganggu rumah (Wudianto, 1990).Herbisida adalah salah satu jenis pestisida yang merupakan bahan yang mengandung senyawa kimia beracun dan digunakan untuk mematikan tanaman pengganggu/gulma (Purba, 2009)

BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah
·         Alat tulis
·         Kantong plastik
·         Buku deskripsi gulma atau herbarium
·         Alat square method
·         Kantong kertas
·         Oven
·         Timbangan elektrik
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah
·         Lahan sawah atau lahan kering
·         Gulma yang diperoleh

B.  Prosedur Kerja
   1.    Identifikasi
a. Buat atau ambil petakan contoh ukuran 50 cm x 50 cm dengan alat sguare method pada lahan sawah (lahan basah ) dan lahan kering.
b. Lempar petakan tersebut secara sembarang, ambil atau cabut jenis gulma yang tumbuh pada petak tersebut, masukkan ke dalam plastik ulangi hingga petak ke 5. lakukan prosedur tersebut pada lahan kering dan lahan basah.
c. Identifikasilah jenis gulma yang ada dengan menggunakan buku deskripsi berdasarkan cirri morfologinya, dan tulislah nama spesies, morfologi dan perkembangbiakannya, daur hidup dan tempat tumbuhnya.
d. Pisahkan jenis gulma berdasarkan golongannya.
2. Analisis Vegetasi
a.   Buat petak contoh dengan ukuran 50x50 cm dengan cara meletakkan alat square method pada lahan sawah dan lahan kering sebanyak lima petak contoh pada masing-masing jenis lahan.
b.   Diambil atau dicabut semua gulma yang tumbuh pada petak contoh tersebut
c.   Jenis gulma yang ada dipisahkan dan diindentifikasi
d.   Masing-masing gulma yang ada dihitung, kemudian dimasukkan kedalam kantong kertas dan dikeringkan dalam oven pada suhu 70ÂșC sampai kering konstan
e.   Masing-masing gulma yang telah dikeringkan atau di oven kemudian ditimbang
f.   Dihitung kerapatan, frekuensi, dan dominasi masing-masing jenis gulma

BAB IV
HASIL PEMBAHASAN

     Data yang diperoleh dari analisis vegetasi dibagi menjadi dua jenis, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif yaitu data yang menunjukkan bagaimana suatu jenis tumbuhan tersebar dan berkelompok. Sedangkan data kualitatif merupakan data yang menyatakan jumlah, ukuran, berat basah/kering suatu jenis, dan luas daerah yang ditumbuhinya (Soekisman, 1984).
Tabel 1. Jenis gulma saat Kondisi Lahan Setelah 2 Minggu
CK      =    2W     x 100%       W: nilai SDR tekecil
           a + b              a  : nilai total SDR lahan basah                         
      =  2x5,31     x 100%        b : nilai total SDR lahan kering
        100 + 100     
      =  5,31%
Tabel 2. Jenis gulma saat pertama.
Keterangan :
K     : kerapatan/jumlah            Kr    : kerapatan relatif
F     : frekuensi              Fr    : frekuensi relatif
D     : bobot kering                Dr    : bobot kering relatif
BAB V
PEMBAHASAN

      Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi.
      Menurut morfologinya biasanya orang membedakan gulma ke dalam tiga kelompok. Ketiga kelompok gulma memiliki karakteristik tersendiri yang memerlukan strategi khusus untuk mengendalikannya.
a. Gulma teki-tekian
      Kelompok ini memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanik karena memiliki umbi batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan-bulan. Selain itu, gulma ini menjalankan jalur fotosintesis C4 yang menjadikannya sangat efisien dalam 'menguasai' areal pertanian secara cepat. Ciri-cirinya adalah penampang lintang batang berbentuk segi tiga membulat, dan tidak berongga, memiliki daun yang berurutan sepanjang batang dalam tiga baris, tidak memiliki lidah daun, dan titik tumbuh tersembunyi. Kelompok ini mencakup semua anggota Cyperaceae (suku teki-tekian) yang menjadi gulma. Contoh: teki ladang (Cyperus rotundus), udelan (Cyperus kyllinga), dan Scirpus moritimus.
b. Gulma rumput-rumputan
      Gulma dalam kelompok ini berdaun sempit seperti teki-tekian tetapi memiliki stolon, alih-alih umbi. Stolon ini di dalam tanah membentuk jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik. Contoh gulma kelompok ini adalah alang-alang (Imperata cylindrica).
c. Gulma daun lebar
      Berbagai macam gulma dari anggota Dicotyledoneae termasuk dalam kelompok ini. Gulma ini biasanya tumbuh pada akhir masa budidaya. Kompetisi terhadap tanaman utama berupa kompetisi cahaya. Daun dibentuk pada meristem pucuk dan sangat sensitif terhadap kemikalia. Terdapat stomata pada daun terutama pada permukaan bawah, lebih banyak dijumpai. Terdapat tunas-tunas pada nodusa, serta titik tumbuh terletak di cabang. Contoh gulma ini ceplukan (Physalis angulata L.), wedusan (Ageratum conyzoides L.), sembung rambut (Mikania michranta), dan putri malu (Mimosa pudica).
      Pengendalian gulma merupakan subjek yang sangat dinamis dan perlu strategi yang khas untuk setiap kasus. Beberapa hal perlu dipertimbangkan sebelum pengendalian gulma dilakukan:
1. Jenis gulma dominan
2. Tumbuhan budidaya utama
3. Alternatif pengendalian yang tersedia
4. Dampak ekonomi dan ekologi
      Kalangan pertanian sepakat dalam mengadopsi strategi pengendalian gulma terpadu untuk mengontrol pertumbuhan gulma.
      Menurut Soekisman, gulma dapat diidentifikasi dengan menempuh satu atau kombinasi dari sebagian atau seluruh cara-cara di bawah ini :
1. Membandingkan gulma tersebut dengan material yang telah diidentifikasi di herbarium.
2. Konsultasi langsung dengan para ahli di bidang yang bersangkutan.
3. Mencari sendiri melalui kunci identifikasi.
4. Membandingkan dengan determinasi yang ada.
5. Membandingkan dengan illustrasi yang berbeda.
      Berikut merupakan identifikasi dari gulma yang ditemukan pada lahan yang diamati :
1.  Cynodon dactylon L. (Grinting/kakawatan)
a.   Klasifikasi 
Kingdom : Plantae
Divisi         : Magnoliophyta
Kelas            : Liliopsida
Ordo     : Poales
Famili    : Poaceae
Genus    : Cynodon
Spesies   : C. Dactylon
a.  Ekologi
Terutama di daerah dengan musim kemarau yang tegas, di daerah cerah matahari < 1 – 1650 m.Rumput menahun dengan tunas menjalar yang keras, tinggi 0.1 – 0.4 m
b. Morfologi
·    Batang : langsing, sedikit pipih, yang tua dengan rongga kecil.
·    Daun :  daun sempit kerapkali jelas 2 baris. Lidah sangat pendek. Helaian daun bentuk garis, tepi kasar, hijau kebiuran, berambut atau gundul, 2.5 – 15 kali 0.2 – 0.7 cm. Bulir 3 – 9, mengumpul, panjang 1.5 – 6 cm. Poros bulir berlunas. Anak bulir berdiri sendiri, berseling kiri kanan lunas, menghadap ke satu sisi, menutup satu dengan yang lain secara genting, duduk, ellips memanjang, panjang kurang lebih 2 mm, kerapkali keungu-unguan. Sekam 1 – 2 yang terbawah tetap tinggal. Jumlah benang sari 3, tangkai putik 2, kepala putik ungu, muncul di tengah-tengah anak bulir.

1.  Cyperus Brevifolius (Jukut pendul)
a.  Klasifikasi
Kerajaan      : Plantae
(tidak termasuk)
: Monocots, Commelinids
Klass         Liliopsida
Ordo
         :Poales
Division       Magnoliophyta
Famili
        :Cyperaceae
Genus
      :Kyllinga
Spesies
     :K. brevifolia
b. Morfologi
·         Bunga: Jukut pendul tumbuh bergerombol dengan rimpangyang pendek dan merayap, letaknya sedikit kebawah permukaan tanah
·         Batang:  tegak persegi tiga, pejal, dan hanya berdaun di dekat pangkalnya.
·         Daun: daun pada pangkal batang berjumlah 2 - 4 helai berbangun baris, panjang menyempit berujung runcing dengan panjang 3 cm - 10 cm, lebar 1,3 cm - 4 mm berwarna hijau tua.
·         Bunga dari tanaman ini berbentuk bundar memanjang dengan warna hijau muda dengan ukuran 4-8 mm.

2.  Alternathera philoxeroides
a.   Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
       subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Hamamelidae
ordo: Caryophyllales
Famili: Amaranthaceae (suku bayam-bayaman)
Genus: Alternanthera
Spesies: Alternanthera philoxeroides (Mart.) Griseb
b. Ekologi
Umumnya dikenal sebagai gulma Alligator, ini berasal dari Amerika Selatan, tetapi telah menyebar ke berbagai belahan dunia dan dianggap sebagai spesies invasif di Australia, Cina, Selandia Baru, Thailand dan Amerika Serikat. Buaya gulma dapat tumbuh di berbagai habitat, termasuk lahan kering, tapi biasanya ditemukan di dalam air. Mungkin bentuk jalinan tikar besar di atas air atau di sepanjang pantainya. Buaya gulma batang panjang, bercabang, dan hampa.
c.  Morfologi
·      Daun yang sederhana, elips, dan memiliki margin halus. Buaya menyiangi bunga selama bulan-bulan yang hangat tahun dan telah keputih-putihan, tipis berbentuk bola-bunga yang tumbuh pada batang.

4. ANd9GcTjf7LLrxmQ3UZwpe8N4cdrSicUgEtdR0bDzVzVGq7dUy_D9MtMqQDigitaria ciliaris (Jalamparan)
A.  Klasifikasi
Kingdom        :Plantae
Divisi           :Magnoliophyta
Kelas           :Liliopsida
Sub Kelas       :Commelinidae
Ordo           :Cyperales
Famili          :Poaceae
Genus          :Digitaria
Spesies  
      : Digitaria ciliaris
b. Ekologi
Rumput yang berumpun, yang pada pangkalnya kerap kali dengan batang yang merayap; tinggi 1-1,2 m.  Tumbuh-tumbuhan agak mudah berubah tumbuh pada segala macam keadaan tanah pada ketinggian 1- 1800 m.
c.  Morfologi
·         Batang pipih yang besar semakin ke bawah berongga. Pelepah daun terletak jadi satu pada batang. Lidah sangat pendek.
·         Daun :Helaian daun berbentuk garis lanset atau garis, bertepi kasar, keunguan.
·         Bunga : Bulir 2-22 per karangan bunga, tertancap pada ketinggian yang tidak sama. Poros bulir bertunas, panjang 2-21 cm. Anak bulir berseling kiri dan kanan dari poros, berdiri sendiri dan berpasangan tetapi dengan tangkai yang tidak sama panjang, ellips memanjang, rontok bersama-sama, panjang 2-4 mm. Rambut tepi dari sekam pada masaknya buah saling menjauh. Benang sari 3, kepala sari kuning atau ungu. Tangkai putik 2. Kepala putik muncul dekat ujun daripada anak bulir, ungu merah.

5.  Alternathera sessilis (L.) DC (Kremeh)
a.  Klasifikasi
Kingdom     : Plantae (Tumbuhan)
Sub Kingdom : Tracheobionta(Tumbuhan
             berpembuluh)
Super Divisi  : Tracheobionta(Tumbuhan
             berpembuluh)
Divisi        : Magnoliophyta(Tumbuhan berbunga)
Kelas        : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil
Sub Kelas    :Hamamelidae
Ordo         :Caryophyllales
Famili        :
Amaranthaceae (suku bayam-bayaman)
Genus        :
Alternanthera
Spesies      : Alternanthera sessilis (L.)
b.   Ekologi
herba menahun, berumpun kuat, tinggi 0.2 – 0.5 m. Tumbuh pada ketinggian 5 – 1600 m. Buah di Jawa tidak berkembang dengan sempurna.

c.   Morfologi
·         Batang : berambut tipis yang merata.
·         Daun:  bentuk solet sampai memanjang, kerapkali kemerah-merahan atau bernoda.
·         Bunga dalam tongkol duduk, kadang-kadang seolah-olah bertangkai, tidak berduri tempel; dalam ketiak dan garpu. Daun pelindung kecil, runcing, bertepi semacam selaput. Daun tenda bunga 5, runcing, keputih-putihan serupa selaput, panjang kurang lebih3 mm, bertulang daun 3, dari luar berambut. Benang sari 5. tangkai sari pada pangkalnya bersatu seperti mangkok yang pendek. Kepala sari berganti-ganti degnan taju yang berbentuk pita pada ujung yang berbagi dalam umbai. Tangkai putik pendek, kepala putik berbentuk tombol.
6. Ageratum conyzoides (Babadotan)
a.   Klasifikasi
Kingdom    : Plantae
 Divisi      : Magnoliophyta
 Class      : Magnoliopsida
  Orde      : Asterales
 Family     : Asteraceae/Compositae
 Trive      : Eupatorieae
 Genus     : Ageratum
Spesies     : Ageratum conyzoides
Nama Latin : Ageratum conyzoides
Nama Lokal : Babadotan
b.   Ekologi
Bandotan sering ditemukan sebagai tumbuhan pengganggu di sawah-sawah yang mengering,ladang, pekarangan, tepi jalan, tanggul, tepi air, dan wilayah bersemak belukar. Ditemukan hingga ketinggian 3.000 m, terna ini berbunga sepanjang tahun dan dapat menghasilkan hingga 40.000 biji per individu tumbuhan. Karenanya, gulma ini dirasakan cukup mengganggu di perkebunan. (sastroutomo, 1990)
c.   Morfologi
Bandotan (Ageratum conyzoides) adalah sejenis gulma pertanian anggota suku Asteraceae. Terna semusim ini berasal dari Amerika tropis, khususnya Brazil, akan tetapi telah lama masuk dan meliar di wilayah Nusantara. Disebut juga sebagai babandotan atau babadotan (Sd.), wedusan (Jw.), dus-bedusan (Md.), serta Billygoat-weed, Goatweed, Chick weed, atau Whiteweed dalam bahasa Inggris, tumbuhan ini mendapatkan namanya karena bau yang dikeluarkannya menyerupai bau kambing.
Batang: Tumbuhan ini mempunyai batang tegak atau berbaring, tinggi hingga 120 cm, batang gilig dan berambut jarang, sering bercabang-cabang.
Daun: Daun-daun bertangkai, 0,5–5 cm, terletak berseling atau berhadapan, terutama yang letaknya di bagian bawah. Helaian daun bundar telur hingga menyerupai belah ketupat, 2–10 × 0,5–5 cm, dengan pangkal agak-agak seperti jantung, membulat atau meruncing; dan ujung tumpul atau meruncing; bertepi beringgit atau bergerigi; kedua permukaannya berambut panjang, dengan kelenjar di sisi bawah.
Bunga: Bunga-bunga dengan kelamin yang sama berkumpul dalam bongkol rata-atas, yang selanjutnya (3 bongkol atau lebih) terkumpul dalam malai rata terminal. Bongkol 6–8 mm panjangnya, berisi 60–70 individu bunga, di ujung tangkai yang berambut, dengan 2–3 lingkaran daun pembalut yang lonjong seperti sudip yang meruncing. Mahkota dengan tabung sempit, putih atau ungu.
Buah: Buah kurung (achenium) bersegi-5, panjang lk. 2 mm; berambut sisik 5, putih.

7.  Brachiaria reptans
a.   Ekologi
Berasal di Afrika, ini gulma telah mencapai tropis dunia Baru dan Lama seperti di Timur tengah, India dan Asia Tenggara subcontinents, Cina, Filipina, Indonesia Australia dan Kepulauan Pasifik. Ia lebih suka yang agak lembab untuk tanah agak kering bidang (menghilang setelah banjir), sepanjang jalan-sisi, ketinggian sampai 1200 m dan sawah dataran tinggi. 
b.   Morfologi
·         Batang: Lurus, 10-30 cm diatas dasar merayap, node berbulu, 1,2-2,5 mm diameter 1-9 cm, 4-12 mm lebar, berbentuk   hati dan Ciliata pada berombak di
pangkalan; selubung Ciliata pada marjin, lebih pendek dari ruas
·          Bunga majemuk ,  biasanya alternatif pada sumbu utama, 0,5-3 cm Panjang; rambutpanjang panjang mm, 1 mm, gundul; glume menit lebih rendah, 1/4-1/5 asalkan spikelet, membran, memotong atau  bulat, atau samar-samar veinless,
5-7-berurat ; lebihrendah lemma 5-​​berurat, hampir sepanjang spikelet, teliti berkerut; anter ca. 0,8 mm panjang
·         .daun : lebar dan berbulu
8. ANd9GcTM4eIoIbkjxIR5HRCYVi4KLBt_hpAUfwt8ihCEgG0R79tEOA1UzQHymenachne acutigluma (Rumput colok)
a.   Klasifikasi
Divisi           : Spermatophyta
Sub Divisi      : Angiospermae
Kelas           : Monocotyledinae
Ordo           : Cyperales
Famili          : Poaceae
Genus          : Hymenachne
Spesies         : Hymenachne acatigluma
b.   Ekologi
Parit, Tumbuhan muncul. Tanaman ini umumnya memiliki penampilan yang hijau gelap merupakan rumput diperkenalkan dari Amerika Selatan dan diuji sebagai spesies untuk ponded padang rumput. 
Hymenachne asli ditemukan pada tanah liat retak hitam di rawa-rawa permanen, pada
margin permanen air-lubang dan di dataran pesisir sungai dan sub-pesisir Top Akhir dari PB dimana banjir terjadi selama 6-12 bulan dalam setahun.  Ini tidak tumbuh di daerah di mana banjir musiman dangkal, yaitu kurang dari 1 meter. tumbuhan ini ditemukan berdiri tebal dimana ketinggian banjir musim hujan  minimal 4 meter di atas permukaan dataran. Di perairan, berakar di atas garis air rendah dan batang hanyut keluar ke air. Variasi musiman dalam air mendalam meningkatkan kepadatan dan penyebaran tanaman.
c. Morfologi
·         batangnya boleh mencapai ketinggian 100 cm.
·         Daun linear dengan panjang 15 hingga 40 cm dan lebar 1 hingga 3 mm. Infloresen berbentuk silinder dengan panjang 10 hingga 40 cm. Spikelet berwarna hijau.
·         Biji: Kepala benih adalah lonjakan 8-10 cm. Benih yang kecil (1-2 mm).

9. Hedyotis carymbosa (Rumput mutiara)
a.   klasifikasi
Kingdom     : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom  : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi  : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi        : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas        : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas    : Asterida 
Ordo        : Rubiales
Famili        : Rubiaceae (suku kopi-kopian)
 Genus      : Hedyotis
 Spesies
     : Hedyotis corymbosa L. Lamk
b.   ekologi
Rumput tumbuh rindang berserak, agak lemah, tinggi 15 – 50 cm, tumbuh subur pada tanah lembab di sisi jalan, pinggir selokan, mempunyai banyak percabangan.
c.   Morfologi
·         Batang: bersegi
·         Daun: berhadapan bersilang, tangkal daun pendek/hampir duduk, panjang daun 2 – 5 cm, ujung runcing, tulang daun satu di tengah. Ujung daun mempunyal rambut yang pendek.
·         Bunga: ke luar dari ketiak daun, bentuknya seperti payung berwarna putih, berupa bunga majemuk 2-5, tangkai bunga (induk) keras seperti kawat, panjangnya 5 10 mm.
·         Buah: built, ujungnya pecah-pecah.

10. Bergia capansil L.
a.   Klasifikasi
Kindom           : plantae
(tidak termasuk)  : angioespermae, eudicots, risids
Order             : malpighiales
Famili             : elatinacce
Genus             : Bergia L
b.       ekologi
Tahunan Herbal, 15-30 cm. Stem bersujud dan
b.   Morfologi
·         Akar: perakaran di bagian bawah, silinder, sedikit berdaging, gundul; cabang tegak. Stipules bundar-telur/bentuk segitiga, membran, marjin gyrus-sinuate;
·         Batang: tangkai 1-5 mm, diratakan
·         Daun: berbentuk lonjong-lanset, lanset obovate-, atau obovate, 1-4 × 0,2-1 cm, tipis, acuminate dasar, marjin teliti bergigi kecil atau subentire, apeks akut atau menipis. 
·         Bunga diatur menjadi kecil, cymes ketiak, atau dengan singkat subsessile 1-5 mm, sangat kecil. Sepal tegak, lanset sempit mm, 1-2. Kelopak bunga merah muda, lonjong atau subspatulate, subequaling atau sedikit melebihi sepal. Benang sari 10, bebas, filamen filiform, basis sedikit melebar.  gaya lurus atau melengkung. Kapsul subglobose, ca. 1,8 mm diameter, membujur 5-berlekuk., 5-septicidal. Benih lonjong, menit, sudut atau melintang striate.

Pada lahan kering, dilakukan perhitungan mengenai:
1).    Kerapatan mutlak suatu jenis = jumlah individu jenis itu dalam petak   contoh:
Kerapatan nisbi suatu jenis =
2).    Frekuensi relative =
3).    Dominasi mutlak suatu jenis = jumlah dari nilai kelindungan atau nilai luas basal atau nilai biomassa atau volume dari jenis itu. Kelindungan dapat dihitung dengan rumus  dibagi dengan luas petak contoh, yaitu d1 dan d2 adalah diameter proyeksi tajuk suatu jenis.
Dominasi relative =
4).    Nilai Jumlah Dominasi (NJD)
NJD menunjukkan jumlah niali penting dibagi jumlah besaran NJD, biasanya dipakai karena jumlahnya tidak lebih dari 100 % sehingga mudah diinterpretasikan.
NJDsuatujenis
Komposisi masing-masing spesies dapat dilihat di tabel dengan Nilai jumlah Dominasi/Sum of Domination Ratio (SDR). Dari daftar SDR tampak bahwa spesies gulma yang paling dominan adalah lahan kering, spesies Cyperus Brevifolius dengan perolehan 22,09
Hasil perhitungan diatas menunjukan bahwa gulma yang ada di lahan awal dan lahan setelah 2 minggu adalah tidak sama atau berbeda, akan tetapi dengan adanya nilai CK sebesar 5,31% menunjukan sebagian gulma di kedua lahan ada yang sama, yaitu pada spesies Cynodon dactylon, Cyperus Brevifolius, Digitaria cilliaris, Ageratum conyzoides, Brachiaria Capansi L. Khususnya spesies Cyperus Brevifolius lebih Dengan demikian, adanya suatu hasil  dalam mengetahui komposisi jenis atau spesies gulma dan domimasi pada suatu vegetasi diperoleh suatu evaluasi penggendalian gulma seperti: perubahan flora (Shifting), akibat metode pengendalian tertentu, evaluasi percobaan herbisida (trial) untuk menentukan aktifitas sesuatu kombinasi herbisida terhadap jenis gulma yang dapat mempengaruhi tanaman budidaya, seperti Padi
Gulma pada lahan sebelum dilakukan perlakuan secara fisik dan secara mekanik nilai SDR nya relative lebih tinggi dibanding lahan sesudah dilakukan perlakuan tersebut. Contohnya besarnya nilai SDR Digiitaria cilliaris 13,02% sebelum dilakukan perlakuan dan sesudah dilakukan perlakuan besarnya SDR nya 6,13%.
Menurut (Moenandir, 1988) persaingan akan lebih ketat lagi apabila bahan yang diperebutkan jumlahnya tidak mencukupi untuk dipergunakan bersama. Persaingan antar dua tumbuhan dapat terjadi jika tumbuh-tumbuhan tersebut tumbuh secara berdekatan sehingga menimbulkan interaksi.
Analisis vegetasi sendiri juga merupakan salah satu cara untuk mempermudah untuk mengendalikan gulma, Karena pada analisis vegetasi itu sendiri ada pengovenan yang berguna untuk mengeringkan kandungan air di dalam gulma tersebut. Tujuan dihilangkannya kandungan air itu sendiri adalah untuk menghitung SDR gulma, hingga bisa menghitung CK yang nantinya akan menentukan keragaman gulma di lahan
Tujuan analisis vegetasi gulma adalah untuk mengetahui komposisi spesies-spesies yang membentuk komunitas gulma yang tumbuh bersama, pada suatu waktu dan tingkat pertumbuhan tertentu. Metode analisis vegetasi gulma yang digunakan adalah metode estimasi visual (visual estimation), yakni metode analisis dengan pandangan mata dan pencacatan macam spesies gulma beserta skor kelebatan pertumbuhannya masing-masing atau metode kuadrat (Sukman, 1991)
.  Jika ternyata di dapatkan hasil perhitungan > 80% maka, daerah tersebut memiliki keragaman gulma yang cukup tinggi. Perhitungan ini dilakukan biasanya untuk mengukur kebutuhan penggunaan herbisida di lahan.Ketika angka semakin besar maka kebutuhan herbisida juga semakin besar, karena akan makin banyak keanekaragaman.
Pada praktikum yang dilakukan didapatkan nilai CK < 80%, sehingga menunjukkan bahwan dalam lahan tersebut keaneragaman gulma tidak terlalu besar yang akan menentukan untuk penghitungan kebutuhan herbisida

PENUTUP

A. Kesimpulan
       Dari data hasil pengamatan dan pembahasan maka dapat disimpulkan beberapa hal mengenai identifikasi dan analisis vegetasi gulma, yaitu sebagai berikut :
1.       Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi.
2.      Gulma diidentifikasi berdasarkan ciri morfologinya, kemudian ditulis nama spesies, morfologi dan perkembangbiakannya, daur hidup dan tempat tumbuhnya.
3.      Hasil Coefisien Komunitas (CK) adalah 5,31%.  Perhitungan ini dilakukan biasanya untuk mengukur kebutuhan penggunaan herbisida di lahan
4.      Pengidentifikasian gulma dengan herbisida dapat dilakukan dengan metode herbisida secara mekanik, kontak dan sistemik. Perlakuan tersebut terjadi perubahan karena jumlah gulma yang tumbuh telah berkurang akibat perlakuan. Nilai SDR pun relative lebih tinggi sebelum perlakuan di banding sesudahnya

B.  Saran

  • Praktikum harus dilakukan dengan cermat dan tepat
  • Pengidentifikasian tanaman gulma dan penghitungan nilai SDR harus dilakukan dengan teliti sehingga didapatkan nilai SDR yang tepat
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Klasifikasi Tumbuhan. www.plantamor .com diakses tanggal 18 Oktober 2011
Barus, Emanuel .2003. Pengendalian Gulma Perkebunan. Kanisius:  Yogyakarta.
Iskandar, Riska. 2009. Analisis Vegetasi Gulma Kuantitatif (online). http://riskaiskandar.blogspot.com/2009/02/analisis-vegetasi-gulma-kuantitatif.html. Diakses pada tanggal 17oktober 2011
Moenandir, Jody. 1988. Pengantar Ilmu Gulma dan Pengendalian Gulma (Ilmu Gulma Buku 1). Rajawali Press : Jakarta.
Nata wigena, H. 1995. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Bandung: Trigenda
Karya.
Purba, Edison. 2009. Keanekaragaman Herbisida Dalam Pengandalian Gulma Mengatasi Populasi Gulma dan Toleran Herbisida. Jurnal USU.
Rukmana, Rahmat, Suganda Saputra. 1999. Gulma dan Tehnik Pengendalian. Kanisius : Yogyakarta.
Sukman, Yernelis. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali Pers, Jakarta.
Tjitrosoedirdjo, Soekisman dkk. 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. PT. Gramedia : Jakarta
Triharso. 1996. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta

1 komentar: